Book Summary.
Tara Damaya menulis buku ini dengan cermat, sederhana dan mudah dimengerti. Fakta bahwa beliau juga bagian dari gen Y membuat saya merasa dimengerti. Slow living sudah menjadi hal yang saya pelajari dan berusaha diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Introduction
Bab 1: Pikiran
Dunia terasa begitu sibuk dan memaksa untuk bergerak serbacepat agar tak tertinggal. Sebelum membahas lebih jauh, perlu digaribawahi; melambatkan pikiran berbeda dengan berpikir lambat.
Sebuah penelitian dalam jurnal medis Nature mengungkapkan bahwa penggunaan otak yang terlalu aktif justru memuatnya makin lelah hingga mengurangi ketajamannya. Sebaliknya, otak yang tenang dengan aktivitas saraf yang kurang bisa lebih memperpanjang usia.
Melambatkan pikiran di sini maksudnya, memelankan kecepatan pikiran untuk menghindari keinstanan (melakukan sesuatu dengan tepat dan sebaik mungkin bukan secepat mungkin)
Jangan sampai karena terlalu fokus pada kecepatan, kita jadi lupa memperhatikan bahwa ada hal-hal yang akan terlihat jika kita berjalan lebih pelan.
Bab 2: Persona
Persona lebih sering dikenal dengan pencitraan. Biasanya persona akan muncul saat berinteraksi dengan orang lain.
Wajah pertama digunakan dalam menghadapi dunia. Pada bagian ini, seseorang harus menampilkan wajah terbaiknya, meliputi hal positif dan sisi terbaik dirinya.
Wajah kedua akan ditampilkan pada orang terdekatnya, orang-orang yang bersifat intim.
Wajah ketiga adalah untuk diri sendiri. Orang lain tak ada yang tahu tentang ini kecuali kita sendiri.
Persona akan berbahaya jika seseorang terlalu banyak menggunakan persona sehingga ia menjadi lebih dikendalikan oleh topengnya.
Cobalah untuk pergi sejenak dari orang-orang yang kita kenal dan menikmati ketenangan menjadi diri sendiri.
Bab 3: Emosi
Emosi terdiri dari dua jenis, yaitu emosi positif dan negatif. Emosi positif terdiri dari bahagia, gembira, senang dsb. Sedangkan emosi negatif, terdiri dari takut, sedih, cemas, marah dsb.
Emosi akan selalu muncul sebagai respons kita terhadap apa yang kita pikirkan, lihat, dengar atau kita rasakan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional atau EQ berkontribusi 2 kali lebih penting dalam memengaruhi kesuksesan dibanding kecerdasan intelektual atau IQ.
Ada yang bilang, "Jangan mengambil keputusan pada saat marah, Jangan berjanji saat senang"
Sebab, pada saat itu kesadaran sedang menipis, sementara emosi sedang berkuasa atas diri dan pikiran kita.
Dalam konsep hidup melambat, kita diharuskan memiliki kesadaran penuh atas apa yang kita alami.
Bab 4: Ambisi
Mimpi adalah milik kita pribadi, yang sekiranya cukup berada dalam alam pikir dan tentu tak perlu diumbar tanpa adanya bukti. Sedangkan Ambisi adalah hasrat atau keinginan yang besar untuk mencapai sesuatu.
Ambisi berperan penting untuk mendorong diri mencapai impian atau tujuan hidup. Sayangnya ambisi kerap terbangun bukan karena mimpi melainkan karena Gengsi.
Bab 5: Cinta
Cinta adalah perasaan yang dalam dan lebih spesial, sedangkan sayang adalah bentuk ketulusan.
Cinta memiliki keduduka lebih dalam. Hal inilah yang sering membuat logika tak berjalan saat kita mencintai seseorang. Lalu, dengan berbagai alasan kita selalu memaklumi dan membenarkan apapun yang orang kita cintai lakukan. Bahkan sebanyak apapun kesalahan mereka. Inilah mengapa orang mengatakan cinta itu buta.
Bab 6: Kehidupan Sosial
Kita dan orang sekitar akan saling memberikan pengaruh, baik pengaruh buruk maupun pengaruh baik. Pemenangnya adalah yang Dominan.
Meskipun terdengar pemilih, tapi berteman dengan orang yang tepat jauh lebih menguntungkan. Ibarat sebuah simbiosis mutualisme, kedua belah pihak sama-sama memberikan keuntungan. Kalau bisa memilih teman baik kenapa harus bertahan dengan teman toxic.
Ada masanya ketika kita berkorban demi orang lain agar kehidupan sosial kita terasa seimbang. Namun semuanya belum tentu sepadan. Berhenti berkorban demi orang lain yang tidak menghargai kita. Yang lebih parah lagi jika mereka memanfaatkan ketulusan kita. Disaat itulah, kita harus Berhenti.
Saat kehidupan sosial terasa begitu menuntut. Saatnya untuk menarik diri dan re-charge.
Bab 7: Harapan
Dalam diri setiap manusia, harapan atau asa merupakan komponen yang selalu ada. Harapan bersifat abstrak, tetapi kita yakini dan kita jadikan sugesti agar terwujud.
Ingatlah bahwa tidak selamanya yang kita persiapkan dapat berjalan dengan baik sesuai harapan. Jangan terjebak dengan ekspektasi dan harapan yang kita buat sendiri.
Manusia memiliki hati dan pikiran yang mudah berubah. Maka dari itu, berharaplah pada diri sendiri.
Seperti kata Mark Manson bahwa penderitaan mustahil dihindari, jadi nikmati saja. Alih-alih putus asa dari pengharapan liar pikiran kita, maka beristirahatlah!
Bab 8: Spiritualitas
Spiritualitas bisa muncul tanpa melalui agama. Namun, dalam sebuah perjalanan seseorang menemukan makna hidup, spiritualitas jelas dapat ditempuh dan diperolah dari Agama.
Orang yang cerdas secara spiritual paham bahwa semua yang ada di dunia ini adalah sebuah kesatuan yang mana setiap elemennya saling terkait.
Butuh pengorbanan besar dalam segala hal untuk mencapai ketenangan. Jika sudah saatnya beristirahat, makan berhenti sejenak.
Istrihat spiritual ibarat tempat berlabuh kita yang merasa letih mengarungi kehidupan dunia. Mendekatkan diri pada-Nya juga merupakan istirahat spiritual.
Epilog
Manusia hanyalah makhluk yang mempunyai batasan-batasan. Tak ada manusia yang sempurna. Tak perlu memaksakan diri untuk mengejar keberhasilan orang lain dan beristirahatlah saat lelah.
Quotes
"Kita memang tidak dapat mengendalikan dunia, tapi kita bisa mengendalikan pikiran kita sendiri"
"Sebagai manusia yang hidup dengan beragam kepentingan, kita tak perlu memenuhi ekspektasi sosial yang tinggi tentang diri kita"
Beli bukunya di: Shopee | Gramedia (45,000-60,000)

Posting Komentar